Depresi Berulang Kali


Sudah pasti orang sepertiku sangat mungkin depresi. Bukan hal yang tidak masuk akal. Berdasarkan hasil test,

aku memiliki kepribadian 90% introvert. Tertutup, kaku, pendiam, pemalu, lugu, dan penakut. Dengan

kepribadianku yang lebih banyak diam dan sering bertarung melawan pikiran sendiri, seringkali aku kalah dalam

pertempuran itu. Alhasil sering membuat, pusing, jenuh, sedih, bahkan depresi. Merasakan depresi pertama kali

saat usia SD. Untuk penyebabnya tidak aku sampaikan disini, karena hal privasi. Waktu itu aku tidak mencari

bantuan profesional, selain dianggap asing dan tidak umum untuk berobat ke psikolog atau psikiater, hidup di

kampung mencari bantuan seperti  itu akan didiagnosis gila duluan oleh para tetangga, dianggap aib pula. Tapi

aku tahu itu adalah depresi, karena perasaan itu muncul lagi di kemudian hari, yang mana aku sudah memberanikan

diri datang ke tenaga profesional dan terkonfirmasi itu adalah depresi.  


Depresi itu adalah perasaan yang sangat sedih sekali. Benar-benar sedih. Menangis berkali-kali. Merasa cemas dan takut berlebih. Rasa takut, sedih, bingung, seakan tidak ada jalan keluar lagi. Sudah tidak tertarik apa pun. Bisa tidur seharian atau malah tidak tidur berhari-hari. Tidak nafsu makan atau malah makan berlebihan. Tidak ingin melakukan apa-apa. Hanya menangis terus-menerus dengan kesedihan yang mendalam, dan rasa sedih itu makin menjadi-jadi berhari-hari. Rasanya dunia ini sudah tidak berarti. Selalu berharap agar diri ini menghilang begitu saja, tanpa pernah mengalami kejadian ini dan itu, dan lepas dari semuanya. Rasanya tidak kuat lagi menahan beban hidup. Padahal, kalau sudah terlewati, beban itu tidak seberapa. Hanya saja kalau sudah terjebak dalam kesedihan depresi rasanya sesuatu kecil pun terasa sangat berat dan tidak ada jalan keluarnya.


Setelah perasaan sedih itu terlewati, apakah cukup untuk membuat mental kuat agar tidak depresi lagi? Tidak. Justru terjadi lagi, saat SMP. Penyebabnya adalah hal abstrak yang tidak bisa aku jelaskan, yang pasti karena kalah oleh pikiran liarnya sendiri. Yang kurasakan sama: nangis selama berhari-hari, merasa hampa, tidak tahu harus bagaimana lagi, panik juga. Depresi itu memang mudah menyerang orang-orang sepertiku. Yang cenderung diam, tidak banyak bicara, tapi ramai di pikiran. Bergelut dengan pikiran yang tiada henti. Dan ketiga kalinya terjadi lagi saat transisi dan adaptasi, yaitu peralihan dari SMP ke SMA. Aku merasa culture-nya beda, dan aku memang sangat sensitif pada perubahan. Butuh waktu lama untuk bisa menerima suatu perubahan dalam hidup. Hanya masalah adaptasi saja bisa membuatku depresi. Setakut itukah aku hidup di dunia ini? Sungguh aku takut, benar-benar pengecut. Beberapa orang bilang aku tidak berani keluar dari 'kandang' dan zona nyaman, padahal sejatinya aku belum pernah merasakan tempat yang benar-benar nyaman di dunia ini.


Lagi-lagi depresi datang, kali ini saat awal perkuliahan. Ini pun tentang transisi dan adaptasi. Aku sangat shock dengan budaya perkuliahan yang jauh berbeda dari kehidupan sebelumnya. Di masa inilah aku mulai merasa benar-benar kesepian. Sebenarnya itu memang yang seharusnya kurasakan, tapi saat itu aku menolak menerima keadaan. Aku merasa aku sama dengan yang lain, aku bukan diriku yang "saat ini". Aku mulai menyalahkan diri sendiri. Rasanya sudah tidak bisa aku tahan lagi. Sedih, berontak, takut, bingung, putus asa jadi satu. 


Kali ini aku putuskan mencari bantuan profesional. Aku beranikan mencoba menghubungi psikiater secara online, belum berani menelepon atau bertemu langsung. Saat itulah, untuk pertama kalinya, aku didiagnosis depresi….

anxietyyyy... keep on tryin' me, I feel it quietly, tryin' to silence me, yeah..seperti lagu yang berjudul Anxiety dari Doechii. :)


Saat itu pula aku pertama kali diresepkan obat-obatan antidepresan. Ada hal lucu di tengah kesedihanku: saat memegang obat itu, ada rasa semacam sedikit bangga, walau sedang sedihπŸ˜€. Tidak tahu kenapa, rasanya, "Ini lho, aku sampai minum obat antidepresi." Hmm lelucon yang engga lucu. Mungkin lebih tepatnya hanya haus perhatian sih, bukan bangga. Untuk pertama kali diberi dosis 10 mg tapi tidak manjur, bahkan tidak merasakan apa-apa. Lanjut 20 mg, tetap tidak ada efek. Akhirnya aku berhenti mengonsumsinya, kerena merasa sia-sia saja, engga ada perubahan sama sekali. Setelah itu, tidak tahu apakah aku masih depresi atau cuma capek merasakan kesedihan terus-menerus. Rasanya masalahnya belum terselesaikan, tetapi ya sudah lah dijalani aja, ujarku. Saat itu aku sudah mulai menerima keadaan. Aku terus belajar sekuat tenaga untuk bertahan, sambil berdoa dan merintih pada Tuhan agar segera terhindar dari semua ini. Aku mulai belajar mencintai diri sendiri, mulai merasa bangga dengan diri sendiri. Tetapi rasa bangga itu berlebihan, merasa akulah orang paling benar di dunia ini, sangat idealis, dan terlalu percaya diri. Terlalu perfeksionis. Seperti itulah caraku menghindari dan lari dari kesedihan  itu.


Setelah itu, masih depresi? Tentu, masih. Apa lagi? Saatnya tiba waktu program KKN dari perkuliahan. Ya, KKN. Sudah bisa ditebak kan pemicu depresinya kali ini? πŸ˜€ Benar sekali: jatuh cinta sepenuh hati, rasanya hampir mati. KKN memang terkenal dengan cerita "cinlok"-nya yang berdrama, dan lucunya, aku merasakan dan mengiyakannya. Semangat bergelora dalam diriku, rasa percaya diri yang kelewat batas—yang baru saja bangga dengan diri sendiri dan mulai semangat lagi. Aku jalani momen KKN dengan penuh semangat, dan tidak lupa menunjukkan versi terbaikku yang sebenarnya "sok keren" saja saat itu, dengan sedikit caper dan curi-curi pandang pada si dia yang aku cintai sepenuh hati (bucin sekali). Aku kelewat percaya diri. Aku kira dia merasakan yang sama dengan apa yang kurasa. Aku menjadi sangat agresif sebagai seorang wanita yang mengejar laki-laki pujaannya. Huhh, sangat memalukan. Aku kira dialah versi tercocok untuk jadi pasanganku, cinta sejati sehidup semati, bak kisah cinta Hayati. Berbagai kata puitis, memelas, dan permohonan agar dia mencintaiku juga. Tapi yah, semua itu semu. Lagi-lagi aku tidak menerima kenyataan, aku jatuh lagi, rapuh, dan merasa tidak ada yang membuatku semangat lagi. Depresi lagi. 


Kali ini aku beranikan diri menemui psikiater secara langsung. Menangis tersedu-sedu di depan psikiater. Aku rasa psikiater itu sudah paham sekali dengan model-model pasien sepertiku. Tapi ternyata tidak. Psikiater pun tidak mampu membuatku nyaman untuk mengutarakan semuanya. Karena memang diriku sendirilah yang tidak mau nyaman dengan seseorang. Aneh memang. Aku selalu merasa takut dengan mereka. Untuk depresi kali ini, aku menghajarnya dengan makan berlebihan, bukan tidak nafsu makan, tapi makan berlebihan, alhasil aku mengalami obesitas di usia masih muda ini. Padahal dulu aku kerempeng. Stres sekali, dan hanya tidur dan makanan yang bisa membuatku bahagia. Huft, sudah bosan kan? tunggu masih ada lagi. Depresi? Ya, iya depresi, lagi, dan lagi. Aku kira depresi itu hanya sekali… sekali seumur hidup, cukup satu kali jangan berubah…, bak lagunya Lesti Kejora yang berjudul "Sekali Seumur Hidup". Nyatanya tidak! Terjadi berulang kali.


Kali ini, karena sudah masa akhir perkuliahan, pemicunya apa? Pasti kalian sudah bisa menebak. Ya, tentang tugas akhir dan kelulusan. Luka sebelumnya saja belum benar-benar pulih walau sudah berbulan-bulan bahkan hampir setahun, kini ditimpa yang lainnya lagi. Masalah skripsi. Bisa dibilang stresku kali ini cukup beralasan lah ya. Sedikit lebih keren lah alasannya, tidak terlalu sepele:) .  Karena di luar sana, tidak hanya aku sebenarnya yang stres bahkan depresi karena masalah skripsi. Menyusun skripsi atau tugas akhir itu memang tidak mudah, langkah demi langkah harus teliti dan hati-hati. Apalagi kalau menemukan ada yang salah dan hasilnya tidak sesuai harapan. Di situlah bagi kaum yang tidak kuat mental sepertiku mudah down. Selain memang sulit, dari luar ada tekanan juga untuk segera usai dari perkuliahan ini, karena sudah mundur satu semester akibat skripsi yang tak kunjung usai. Rasanya aku sudah tidak kuat lagi. Selalu bilang seperti itu, padahal semua juga akan terlewati. Aku memutuskan untuk menyerah. Tapi orang-orang tidak memperbolehkan aku menyerah. Aku sudah lemah, putus asa, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Padahal ya, bagaimanapun juga, aku tetap menjalani hidup ini. Disuruh bimbingan ya bimbingan, disuruh koreksi ya koreksi, waktunya sidang ya sidang. Tapi kok menjalaninya itu lho, rasanya sedih sekali. Sebenarnya aku bisa, walau mengeluh bagaimanapun toh tetap aku jalani. Hingga pada akhirnya menjelang kelulusan, hanya tinggal melengkapi persyaratan yudisium saja, aku rasa sudah tidak sanggup lagi. Berulang kali aku bilang tak sanggup, padahal nyatanya aku masih hidup, bertahan, dan justru ujian di depan lebih berat lagi. Dan akhirnya karena keharusan yang kujalani... Dan yahh, aku berhasil! Aku lulus! Alhamdulillah, akhirnya lulus juga.


Tapi apakah ujian hidup ini kelar setelah lulus? Ya tidak. Kalian bisa menebak lagi kan ujian setelah lulus kuliah itu apa? Ya, yang saat ini aku jalani: mencari pekerjaan. Dan lagi-lagi membuatku depresi. Tapi bukan cuma masalah mencari kerjanya yang membuatku depresi, tapi apakah aku bisa bekerja atau tidak, dengan keadaanku yang sangat unik sekali (bahasa halus untuk menguatkan diri πŸ™‚). Kesana kemari aku mencari pekerjaan yang mungkin bisa kulakukan, tapi ya begitulah, memang diriku ini seperti tidak sanggup bekerja. Depresi kali ini lebih berbeda dan jauh berbeda dari depresi pertama kali. Untuk kali ini, sudah tidak bisa menangis lagi, rasanya begitu datar, sudah mati rasa. Mungkin pasrah atau apalah. Tapi aku kayak mayat hidup, rasanya sudah tak punya emosi lagi, tidak tertarik apa pun lagi, tidak tidur sampai 3 hari, bahkan sekadar mandi pun rasanya sangat berat. Merasa sudah tidak berguna lagi aku hidup.


Hingga akhirnya aku menerima saja semua keadaan diri. Aku tidak yakin kalau aku benar-benar menyerah, karena walaupun mengeluh setiap hari, aku masih tetap bergerak dan mencari cara untuk menemukan jalan keluar. Karena kalau aku masih hidup, aku belum menyerah, aku masih memiliki harapan. Meskipun kadang harapan itu hilang, tapi justru harapan lain akan segera datang. Itulah alasan aku masih tetap hidup, masih punya harapan.


Dan lagi aku minum obat antidepresi, tapi ya begitulah, aku tidak merasakan apa-apa dari obat-obatan tersebut, walaupun sudah diganti jenis, merek, bentuk tablet, kapsul, atau racikan, bermacam-macam obat, dan juga dinaikkan dosisnya pula. Tapi tidak berefek sama sekali. Hingga aku sadar, kalau depresi itu akan sembuh hanya dari diri sendiri. Ya diri sendiri. Kita mau engga untuk depresi? Dan akhirnya aku bilang pada diriku sendiri, sepertinya ini adalah depresi yang terakhir kali dalam hidupku. Aku tidak mau lagi merasakannya, sudah bosan! Aku yakin aku sudah bisa mengendalikan diri. Sekarang lebih menerima keadaan diri. Berusaha semampunya, menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Apappun yang terjadi, aku serahkan pada Tuhan. Itulah kisah depresiku yang berulang kali..mungkin ada di antara kalian juga merasakan hal yang sama. Atau mungkin saat ini sedang merasakan depresi. Its okay, biarlah rasa sedih itu datang, suatu saat kita akan berdamai untuk menerima kenyataan. SekianπŸ™‚.


Oiya, untuk sekadar informasi, jika merasa depresi, tidak ada salahnya utnuk mencari bantuan profesional. Apapun yang terjadi, setidaknya mereka tahu dan bisa mendengarkan, memberikan nasihat, petunjuk, dan pengobatan agar tidak semakin fatal. Sekalipun kita tidak mendengarkan nasihatnya, tapi yakinlah kalau kita masih mau mencari bantuan, sebenarnya kita masih berharap dan memiliki kemauan untuk sembuh. 


Catatan Penulis: Tulisan ini adalah bagian dari buku "Apakah Aku Tidak Berguna?" yang saat ini sedang dalam proses penerbitan di Google Play Books. Cerita dan pengalaman yang disampaikan adalah kisah nyata penulis. Nantikan rilis lengkapnya di Google Books dan baca seluruh kisahnya di sana!😊




Judul: Apakah Aku Tidak Berguna?
Penulis: Khadijah
Tahun: 2025


Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat. πŸ™πŸ˜Š

Instagram: @itzkhadijah13

Email: khadijah13.official@gmail.com

Saweria: https://saweria.co/khadijah13

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berniat Menabung, Malah Terjebak Produk Asuransi